Whether We Like It or Not
/PERSPECTIVE

Whether We Like It or Not

0:000:00

Whether We Like It or Not

·4 min read·0 views·

The World, Whether We Like It or Not, Will Become More and More Borderless

Ada masa ketika garis batas terasa kokoh. Tembok dijaga, paspor distempel, kontainer diperiksa, dan setiap perpindahan butuh persetujuan. Garis-garis itu hari ini masih ada. Petugasnya masih berseragam, pagarnya masih berdiri. Tapi semakin lama, semakin banyak hal yang lewat tanpa menyentuhnya sama sekali.

Pagi tadi seseorang di Helsinki mengirim pesan suara ke ibunya di Bandung sambil sarapan. Kemarin seorang sahabat membayar konsultan di Buenos Aires hanya dengan satu ketukan. Tahun lalu, seorang pemilik UMKM batik di Yogyakarta menerima pesanan dari pembeli di Nairobi, kota yang sebelumnya belum pernah hadir di peta hidupnya. Garis batas itu masih ada di peta, tapi rute yang sebenarnya kita pakai sudah berhenti mempedulikannya.

Suka atau tidak, dunia ini akan semakin tanpa batas.

Pertanyaannya berubah. Bukan lagi "siapa yang paling kuat", tapi "siapa yang paling siap". Bukan lagi "kita berada di mana", tapi "bagaimana asal kita dikenal di mana-mana". Di dunia di mana yang melintas bukan cuma barang, tapi juga ide, identitas, dan cerita, kekuatan diukur dari seberapa lihai sebuah negara mengirim dirinya sendiri ke ruang-ruang yang dulu tertutup.

Akan tetapi, di tengah arus ini, brand lokal kita masih terseok di jalur sempit. Banyak pelaku ingin tampil di etalase global, tapi tidak tahu pintu masuknya. Banyak yang ingin menjadi pemain dunia, tapi hanya kebagian peran sebagai penonton. Bukan karena mereka kurang baik. Bukan karena produknya kalah. Tapi karena jalurnya, sejak awal, memang tidak dirancang untuk mereka.

Inilah yang sering luput. Kita gampang menyalahkan kompetensi, padahal yang kurang adalah akses. Kita cepat bilang "produk lokal belum siap", padahal sistem yang ada justru menutup pintu lebih dulu sebelum produk itu sempat bicara. Saya sering bertemu pemilik brand lokal yang resepnya turun-temurun atau produknya hasil garapan tahunan. Ceritanya hampir selalu sama: ingin ekspor, tapi bingung mulai dari mana.

Sistem global, sejujurnya, tidak pernah benar-benar netral. Ia berpihak pada mereka yang sudah mapan, yang jalur dan infrastrukturnya sudah terpasang sejak lama. Bagi yang baru tiba, pintu pertama adalah birokrasi, pintu kedua adalah logistik, pintu ketiga adalah pembiayaan, dan setiap pintu menutup sedikit lebih rapat dari yang sebelumnya. Kita tidak bisa terus menunggu pintu-pintu itu berbaik hati membuka sendiri. Kita harus belajar membuat kunci sendiri.

Di titik inilah saya percaya, dunia tanpa batas bukanlah ancaman. Ia adalah panggung yang baru saja dibuka. Tinggal kita yang harus menyiapkan langkah, suara, dan jalur untuk naik ke atasnya.

Master Bagasi dibangun dengan keyakinan itu. Kami tidak datang karena tren cross-border e-commerce sedang ramai. Kami datang karena merasa ada kekosongan yang harus diisi, ada kesempatan yang harus diraih, dan ada kebutuhan yang harus segera dituntaskan. Jika dunia menjadi semakin tanpa batas, produk dan cerita Indonesia juga harus bisa melintas. Kalau tidak, batas itu cuma berpindah tempat, dari peta ke etalase.

Karena itu, kami tidak menyebut diri sekadar e-commerce, tapi sebagai cross-border movement. Kami membangun sistem logistik, menyusun mekanisme pembayaran, dan merancang standar dari perspektif Indonesia. Bukan karena nasionalisme yang dipaksakan, tapi karena standar yang ditulis dari sudut pandang orang lain hampir selalu menempatkan kita di posisi yang lebih ribet, lebih lambat, dan lebih mahal.

Kami menyebutnya bagian dari Nusantara Wave, gerakan kolektif untuk membawa Indonesia ke percakapan global. Bukan sebagai objek konsumsi, tapi sebagai pusat kreativitas, kualitas, dan kebanggaan yang punya nama sendiri.

Di balik semua ini, ada pertanyaan yang kami pegang sejak awal: jika dunia semakin terbuka, kenapa jalur produk lokal kita masih tertutup? Pertanyaan itu yang membuat kami memilih tidak menunggu izin. Karena di dunia tanpa batas, izin tidak datang dari tembok yang akan runtuh. Ia datang dari jalur yang berani dibuka oleh mereka yang sadar lebih dulu.

Saya menulis catatan ini sebagian untuk mengingatkan diri sendiri bahwa globalisasi hari ini tidak menunggu siapa-siapa. Kalau kita tidak membangun sistem kita sendiri, harga, ruang, bahkan nasib produk lokal akan terus ditentukan oleh pihak yang tidak paham nilai kita. Itu bukan kekalahan kompetensi, itu kekalahan akses. Dan akses, kabar baiknya, bisa dibangun.

Jadi kalau kamu hari ini sedang merintis sesuatu yang masih kelihatan kecil, bingung mulai dari mana, atau ragu kenapa jalurmu terasa lebih pelik dari yang lain, saya ingin bilang satu hal: kamu tidak sedang terlambat. Kamu sedang melihat tembok yang memang sudah retak.

The world is going borderless.

Tembok itu nisbi. Sekat itu sementara. Yang akan tinggal bukanlah yang paling besar, tapi mereka yang paling percaya bahwa produk kecil sekalipun bisa punya dampak global.

Kalau kamu percaya itu, kita sedang berjalan di jalur yang sama.

0Shares
Discussion

0 Comments

Be the first to comment