Indonesian People Connection
Story from Desember 2018
Nusantara Wave with Indonesian People Connection
Mencari Keberadaan Indonesia
Saya masih ingat sensasi sederhana itu, duduk di food court sebuah mall di Jakarta, menatap deretan gerai ayam goreng ala Amerika, ramen Jepang, teokbokki Korea, kebab Timur Tengah, hingga tom yum dari negeri tetangga. Lidah kita, tanpa sadar, sudah lama menjadi tanah rantau bagi rasa-rasa dari belahan dunia lain.
Kesadaran yang lebih dalam bersemayam ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di luar negeri. Tahun 2010, di ajak senior sebagai perwakilan Universitas Indonesia di Shanghai World Expo, pameran dunia yang dikunjungi lebih dari 73 juta orang. Saya datang untuk riset, tetapi pulang membawa pertanyaan yang jauh lebih besar dari data yang saya kumpulkan.
Pertanyaan itu lahir dari satu pengamatan. Pavilion Indonesia di Expo itu secara materi bagus dan lengkap; representasinya utuh, kurasinya rapi. Pengunjung tetap berdatangan. Tapi antrian di pavilion-pavilion lain, Jerman, Korea, Jepang, Prancis, Belanda, hampir selalu lebih padat. Orang cenderung datang ke pavilion negara yang sudah mereka kenal: ke Jerman karena tahu sepak bolanya, ke Korea karena akrab dengan Samsung dan K-Drama yang sedang menanjak, ke Prancis karena Menara Eiffel.
Indonesia dengan kekayaan yang tidak kalah dari siapa pun, belum punya titik kontak yang cukup akrab di kepala warga dunia. Yang kurang bukan di dalam pavilion, melainkan di jarak antara kita dan mereka sebelum mereka sampai di pintunya. Pertanyaan itu berulang di setiap perjalanan berikutnya, di setiap kota, jejak Indonesia yang saya cari hampir selalu hadir samar-samar, nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota-kota dunia.
Kenapa begitu mudahnya mereka hadir di Indonesia, tapi tidak sebaliknya?
Memaknai Nusantara Wave
Jawabannya mulai muncul ketika saya menyadari bahwa hampir seluruh negara di dunia diam-diam sibuk melakukan cultural diplomacy. Korea Selatan punya Hallyu dengan ekspor konten kreatif belasan miliar dolar per tahun dan 200 juta penggemar dunia. Jepang punya Cool Japan; Thailand punya Global Thai dengan puluhan ribu restoran di seluruh dunia.
Pertanyaan yang pasti muncul: kalau sudah ada Hallyu dan Cool Japan, kenapa Indonesia tidak tiru saja modelnya? Jawaban saya selalu sama, karena kita tidak bisa. Dan itu bukan kelemahan; itu adalah sifat.
Hallyu berhasil karena ia adalah gelombang yang terkurasi, satu estetika, satu industri, disiarkan konsisten dari atas ke bawah. Cool Japan berhasil karena disederhanakan menjadi simbol-simbol yang mudah ditangkap: anime, sushi, kawaii. Keduanya terkonsentrasi karena sumbernya terpusat.
Indonesia tidak bisa begitu. Tujuh belas ribu pulau, seribu tiga ratus suku, tujuh ratus bahasa daerah. Rendang Minang, papeda Papua, kopi Gayo, batik Solo, tenun Sumba, semuanya lahir dari akar yang berbeda. Kita bukan gelombang tunggal, kita adalah kumpulan gelombang yang mengalir bersama.
Indonesia tidak perlu meniru Hallyu. Indonesia perlu model yang lahir dari karakternya sendiri, bukan satu gelombang yang disebar ke dunia, tapi banyak rasa yang seharusnya dirasakan warga dunia juga. Bukan broadcast dari atas, tapi koneksi yang tumbuh dari bawah.
Potensi kita tidak kurang. Rendang dinobatkan CNN sebagai hidangan terlezat dunia (2011, dan kembali 2017). Batik ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2009. Prestasi di tari, musik, tenun, kopi, dan rempah terus menumpuk.
Yang belum kita miliki bukan prestasi, tapi jaringan yang mengantar prestasi itu sampai ke meja-meja dunia. Jaringan itulah yang kami sandingkan dengan Nusantara Wave sebagai separuh lain dari judul ini: Indonesian People Connection.
Master Bagasi Adalah Awal, Bukan Akhir dari Jawaban
Indonesian People Connection adalah gagasan sederhana dengan konsekuensi yang jauh: Indonesia tidak akan hadir di panggung dunia melalui kampanye, melainkan melalui orang-orangnya yang sudah tersebar di sana.
Diaspora Indonesia, yang diperkirakan Kementerian mencapai belasan jutaan orang di lebih dari seratus negara, selama ini kerap dipandang sebagai pasar. Kami melihatnya berbeda: diaspora bukan sekadar pasar, mereka adalah duta. Satu orang Indonesia di Rotterdam yang membawa kopi Gayo untuk kolega Belandanya; satu mahasiswa di Seoul yang memperkenalkan sambal bikinan ibunya; satu keluarga di Toronto yang memakai batik di acara sekolah anaknya, itu adalah titik kontak yang tidak bisa dibeli kampanye mana pun.
Di titik kontak itu, Indonesia tidak disiarkan, Indonesia diperkenalkan. Siaran berjalan satu arah; perkenalan melibatkan hubungan. Siaran bisa dimatikan; perkenalan, sekali terjadi, tidak pernah benar-benar hilang.
Di titik inilah, Master Bagasi lahir, cross-border e-commerce pertama karya anak bangsa Indonesia, kini menjadi wadah bagi lebih dari sepuluh ribu produk dari empat ratus lebih brand Indonesia. Paket-paket kami telah sampai di lebih dari seratus negara, dari dua ratus lebih negara yang secara teknis bisa kami jangkau.
Melalui Master Bagasi, kerinduan kampung halaman diantarkan dalam bentuk paling sederhana sekaligus paling sakral, sebungkus sambal, sehelai kain, sekotak kopi. Brand lokal yang semula ragu melangkah kini mendapat jembatan nyata; sukacita diaspora bertemu kebanggaan UMKM di satu titik: ekosistem yang terikat dan terkait Indonesia.
Master Bagasi mungkin pionir, tapi pionir hanyalah awal. Nusantara Wave tidak akan terbentuk dari satu perusahaan atau satu generasi. Ia hanya menjadi gelombang yang sesungguhnya jika dikawal bersama, oleh pelaku UMKM, diaspora, kreator, dan pembuat kebijakan yang percaya Indonesia layak terdengar di meja dunia.
Saya memaknai Nusantara Wave bukan sebagai slogan, melainkan janji yang harus kami rawat. Janji bahwa suatu hari di sebuah food court di kota mana pun di dunia, seseorang akan berdiri di depan gerai Indonesia, dan merasakan apa yang dulu saya cari di Shanghai, Berlin, Tokyo. Bahwa Indonesia, akhirnya, hadir.
Dan di hari itu saya ingin ada di sana, bukan sebagai akhir dari jawaban, melainkan sebagai salah satu jembatan yang ikut membawanya pulang.
